2.2 DEMOGRAFI

  Kota Lubuklinggau mempunyai iklim tropis basah dengan variasi curah hujan rata-rata antara 2.000-2.500 mm per tahun, dimana setiap tahun jarang sekali ditemukan bulan kering. Wilayah Kota Lubuklinggau memiliki luas 401,50 km2 . Dari luas tersebut kurang lebih 66,5% dataran rendah yang subur dengan struktur 62,75% tanah liat, dengan keadaan alamnya terdiri dari hutan potensial,sawah, ladang kebun karet dan kebun lainnya. Di Kota Lubuklinggau bagian barat terdapat sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Sulap.   Keadaan tanah kota ini terdiri dari : §Aluvial,tanah warna coklat kekuning-kuningan yang berada di bagian dataranyang cocok untuk tanaman padi dan palawija. §Assosiasi Gleihumus,yang sebagian besar terdapat di Kecamatan Lubuklinggau Selatan, dan cocok untuk tanaman padi. §Litosol, yang cocok untuk tanaman keras dan rumput-rumputan, sehingga sangat potensial untuk pengembangan ternak. §Regosol,sebagian besar terdapat di Kecamatan Lubuklinggau Selatan, yang cocok untuk tanaman padi, palawija, dan tanaman keras lainnya.   Proporsi penggunaan lahan pada tahun 2005 meliputi areal pertanian seluas4.634 Ha (10,57%), Perumahan/Pemukiman seluas 9.234,5 Ha (21,07%), Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) seluas 6.616,95 Ha (15,09%), Hutan/Belukar seluas 4.364,18 Ha (9,96%), Perkebunan seluas 8.806,25 Ha (20,09%) dan lain-lain seluas 10.180 Ha (23,22%). Selanjutnya, berdasarkan karakteristik rona wilayah dan peruntukan lahan, Kota Lubuklinggau terbagi dalam 7 (tujuh)kategori sub-wilayah, yakni: a)Kawasan Pusat Pemukiman. Sebagai kota yang tumbuh akibat dinamika perekonomian kota dan wilayah sekitarnya, rona wilayah kota, terutama kawasan pemukiman, terlihat masih tumpang–tindih dengan pusat kegiatan ekonomi lokal. Di pusat pemukiman terdapat banyak aktivitas industri, perdagangan dan jasa. b)Kawasan Pusat Kegiatan Pemerintahan. Hingga tahun 2007, pusat kegiatan pemerintahan masih tersebar di berbagai lokasi. Sebagai kota yang masih berusia muda, belum tersedia sebuah kawasan yang khusus diperuntukkan sebagai lokasi pusat pemerintahan, baik pemerintah kota maupun lokasi berbagai instansi vertikal lainnya. c)Kawasan Pusat Kegiatan Industri, Perdagangan dan Jasa. Karena topografi dan rona wilayah kota yang berbukit dan mencakup wilayah yang cukup luas tetapi dengan jumlah penduduk yang baru mencapai sekitar 167.000 jiwa, terlihat bahwa pusat pemukiman penduduk masih terkonsentrasi di wilayah bagian kota lama. Akibatnya, pusat kegiatan industri dan perdagangan cenderung mengikuti pola konsentrasi pemukiman penduduk. d)Kawasan Pusat Kegiatan Pendidikan. Perkembangan sektor pendidikan Kota Lubuklinggau juga mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Disamping kegiatan pendidikan formal yang dibentuk dan dibina oleh pemerintah dan daerah, mulai dari tingkat pendidikan dasar dan menengah, kini mulai tumbuh kegiatan pendidikan tinggi berupa akademi dan universitas, walaupun masih sebatas kegiatan cabang universitas dari kota dan daerah lain. Disamping itu,kegiatan pendidikan luar sekolah, seperti taman kanak-kanak dan kegiatan kursus dari berbagai jenis keterampilan dan keahlian, juga telah mengalami pertumbuhan yang sungguh menjanjikan. Namun dalam pemilihan lokasi, bagian terbesar dari kegiatan pendidikan dimaksud cenderung terkonsentrasi di wilayah yang padat penduduknya dan di jantung kota. e)Kawasan Pusat Kegiatan Rekreasi dan Pariwisata. Potensi jenis wisata yang memperlihatkan prospek adalah wisata alam dan wisata minat khusus, mulai dari wisata seni-budaya, wisata belanja, dan wisata alam dan agri-wisata. f)Kawasan Pusat Kegiatan Olah Raga. Dalam kedudukannya sebagai kota terbesar kedua di Sumatera Selatan dan terletak di persimpangan aktivitas ekonomi regional dan tingkat kesejahteraan serta kesehatan masayarakatyang terus mengalami perbaikan, Kota Lubuklinggau belum memiliki sebuah kawasan yang khusus diperuntukkan bagi kegiatan olahraga yang memadai. Masyarakat menyukai hampir semua jenis permainan olahraga. g)Kawasan Pertanian, Perkebunan dan Perikanan. Dengan memperhatikan data tentang tingkat laju pertumbuhan ekonomi dan pengembangan wilayah selama lima tahun terakhir,diperkirakan bahwa untuk jangka waktu10 tahun ke depan kegiatan pertanian, khususnya pertanian tanaman pangan yang ditopang oleh saluran dan jaringan irigasi teknis, peternakan, perikanandan perkebunan, masih tetap merupakan sektor kegiatan ekonomi yang signifikan. Selain merupakan lahan kegiatan ekonomi penduduk kota, kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan danpeternakan juga menampung tenaga kerja dalam jumlah yang cukup berarti. Selain itu, disamping berfungsi sebagai pusat produksi dan kegiatan ekonomi warga kota, kawasan pusat pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan juga berperan sebagai daerah kawasan resapan air dan pencegahan bencana alam berupa tanah longsor dan banjir secara alamiah.   Di Kota Lubuklinggau terdapat sungai besar yaitu sungai kelingi yang merupakan sumber air untuk irigasi lahan persawahan Kota Lubuklinggau dan sebagian Kabupaten Musi Rawas. Tata guna lahan di Kota Lubuklinggau

download file :

 

 
Pemerintah kota Lubuklinggau © 2009 |Kontak Admin